Lorem ipsum dolor sit amet

BERAGAM OBJEK WISATA NTT

kolam oeluan TTU,NTT

Roy pazha

Pepohonan tinggi dan rindang, kesejukan, serta suara nyanyian alam di atara gemercik air seakan mampu mengusir segala kepenatan, memberikan sebuah kenyamanan tersendiri.  
Menurut masyarakat sekitar, dahulu hidup seorang nenek bernama Luan. Di lahan tempat tinggal nenek ini terdapat beberapa sumber mata air. Sumber air ini tidak pernah kering walau pada saat kemarau panjang sekali pun. Masyarakat sekitar dapat memanfaatkan sumber air yang ada di lahan Nenek Luan ini untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari maka dari itulah daerah ini disebut Oeluan. Dalam bahasa bahasa Timor "Oe" berarti air, jadi Oeluan bisa diartikan air dari nenek Luan.
Tempat wisata Oeluan ini berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara, tepat di sisi jalan trans Kupang-Atambua. Oleh karena itu, tempat wisata ini sangat mudah dicapai. 
Tiket masuk kedalam tempat wisata ini Rp3.000,00 per orang. Biaya masuk kendaraan sekaligus biaya parkir untuk sepeda motor Rp3.000,00 mobil pribadi atau angkutan umum kecil Rp20.000,00 sedangkan bus Rp30.000,00.
Tempat ini ramai di kunjungi pada saat hari-hari libur, adapun para pengunjung bukan hanya sebatas masyarakat kefamenanu saja melainkan dari kabupaten lain seperti, atambua, soe dan kupang.
Selain terdapat beberapa sumber mata air yang alirannya membentuk air terjun kecil, terdapat juga kolam renang serta wahana mainan anak-anak. Sayangnya wahana mainan anak-anak sudah tidak terawat, bahkan ada beberapa yang sudah tidak berfungsi. Air kolam renang senagaja tidak dicampur kaporit karena air dari kolam renang tersebut masih dimanfaatkan untuk mengairi area persawahan penduduk yang luasnya sekitar 70 hektar

11.21  No comments

kuliner khas Alor NTT

Roy pazha

Alor adalah nama sebuah pulau yang terletak di bagian timur Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namanya memang belum menggema seperti Raja Ampat, tapi para traveller terus memujinya. Konon, keindahan Alor tak kalah dari Kepulauan Karibia yang begitu tersohor. Bahkan sejumlah orang menyebut, Alor lebih megah dengan kekayaan budayanya. 

Tapi di sini Kotak Bumbu tidak akan membahas masalah keindahan alam dan budaya di pulau Alor melainkan untuk membahas dari sisi kulinernya. Yupe, karena selain menikmati keindahan alam dan budayanya, salah satu hal yang selalu dilakukan oleh para pelancong adalah berbelanja dan mencicipi kuliner daerah yang dikunjungi. Begitu juga di pulau Alor ini. Meski bukan di metropolitan, Anda tetap bisa berbelanja.

Di Kalabahi, ada Pasar Kadelang yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari. Ada juga oleh-oleh khas Alor yang bisa dibawa untuk buah tangan keluarga dan teman-teman. Selain berbelanja, Anda juga bisa menyaksikan interaksi masyarakat dari berbagai penjuru Alor, baik dari pegunungan maupun pesisir pantai. Juga mereka yang datang dari pulau lain. Menarik.

Makanan ringan yang wajib dibeli adalah kenari, jagung titi, dan kue rambut. Harganya murah, cukup Rp 50 ribu saja, Anda sudah bisa membawa sekardus berisi tiga makanan ringan tadi. Karena sudah sangat terkenal, makanan ini dijual di mana-mana. Namun jika Anda ingin mendapat harga yang lumayan murah, Anda harus pergi ke Pasar Kadelang.

Untuk makan siang, bisa mencicipi lodeh jantung pisang. Makanan ini terdiri dari bagian dalam jantung pisang kepok yang dipotong-potong dan dicampur bumbu kaldu yang nikmat. Atau Anda bisa menjajal ikan kuah asam yang lezat di Mama Resto. Lokasinya tak jauh dari Pasar Kadelang. Sambil menyantap hidangan, Anda akan dimanja dengan pemandangan laut dan gunung

11.16  No comments

Gula Sabu semanis orang sabu,,hehehehe NTT

Roy pazha

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/71159_104518936278798_8291947_n.jpgGULA sabu merupakan panganan khas Pulau Sabu yang sangat unik dan bermanfaat. Sepintas, gula sabu berbentuk cairan yang sangat kental dan lengkel berwarha coklat kehitaman.  
Jenis makanan ini dibuat dari bahan dasar yang disadap dari pohon lontar. Di daerah lain, gula jenis ini juga bisa dibuat dari bahan yang disadap dari pohon enau atau kelapa.

Gula sabu merupakan hasil olahan pertanian mayoritas penduduk Pulau Sabu dan Raijua. Hal ini tidaklah aneh karena pohon tuak sebagai sumber nira (bahan baku pembuatan gula sabu) terdapat hampir di setiap walayah Pulau Sabu dan Raijua.
Gula sabu bahasa sabunya 'Donahu' kalau lengkapnya 'Donahu Hawu'.  

Bagi orang Sabu, gula sabu adalah pangan utama selain beras dan jagung yang melengkapi keseharian mereka di tengah kondisi geografis Pulau Sabu yang rawan kekeringan. Jika terjadi gagal panen pada tanaman palawija dan stok makanan menipis, maka gula sabu juga dipakai sebagai panganan untuk tetap bertahan.

Cara menikmati gula sabu adalah hanya disendok pada tempat yang terdapat gula lalu dimakan. Cara lainnya adalah gula yang ada diseduh ke dalam air, kemudian diminum seperti teh atau kopi.

Gula sabu diyakini memiliki kalori yang cukup, sebab meneguk beberapa sendok gila air ini maka akan terasa kenyang.
Di kalangan masyarakat Kupang-NTT, gula sabu atau gula air ini juga sering dijadikan minuman terapi untuk menyembuhkan penyakit mag.  Dan, gula sabu juga bisa dijadikan bahan campuran untuk jenis panganan lainnya.

11.13  No comments

makanan khas pulau Timor NTT

Roy pazha

Selain jagung bose yang terlalu terkenal itu, masih ada begitu banyak makanan tradisional orang Timor. Sayangnya, di hadapan nasi putih, semua makanan ini tak berdaya apa-apa. Dengan berbagai kemudahan pembagian beras oleh pemerintah dan para benefactor, makanan tradisional ini boleh dikata sudah punah.
Pada perayaan Hari Pangan Sedunia, 13 Oktober 2013 yang lalu, di Paroki St Paulus Oinlasi berlangsung pameran kerajinan dan pangan tradisional Atoin Meto – TTS. Peserta pameran ini adalah umat katolik dari stasi dan beberapa Paroki tetangga. Panitia juga mengundang masyarakat sekitar yang beragama lain untuk berpartisipasi dalam pameran tersebut.
Yang dipamerkan dalam stan-stan sederhana itu adalah hasil kerajinan tradisinal seperti tenun ikat, anyaman muti, dan makanan dari tepung sagu. Di stan stasi Fatumnasi misalnya, para peserta disuguhi hidangan puta’laka. Penganan ini diolah dari tepung intisari pohon gewang, yang disebut putak. Putak ini biasanya untuk pakan babi, tapi bisa juga diolah lebih lanjut untuk makanan. Intisari gewang dipotong-potong, kemudian ditumbuk untuk memisahkan serat dari tepung. Tepung putak ini kemudian direndam semalaman. Endapan dari rendaman tersebut digumpalkan seperti bola sebesar buah jeruk bali, lalu dikeringkan. Namanya put’boe’. Put’boe’ inilah yang menjadi bahan dasar untuk membuat puta’laka.
putboe
pulakasingkongAdapun cara membuat putalaka adalah sebagai berikut. Gumpalan putboe tadi dicampur dengan sedikit air lalu diceperkan dan disangrai. Biasanya diberi campuran kacang hijau atau parutan kelapa. Rasanya guriiih. Tapi kau butuh minum banyak air kalau tidak ingin tercekik.
Penganan lainnya berupa singkong bakar, dan jagung goreng. Sayangnya dari stan ke stan tidak saya temui uk saku dan jagung sangrai.
Sebenarnya masih banyak makanan tradisional Atoin Meto yang sekarang sudah sulit ditemukan. Bisa jadi karena proses pengolahannya yang memakan waktu sangat-sangat lama. Sementara sudah tersedia berbagai macam penganan siap saji yang menggiurkan.
Sebut misalnya uk. Kita pertama-tama harus menyangrai jagung, didinginkan kemudian ditumbuk sampai benar-benar halus. Jika tidak sampai halus, kita akan tersedak-sedak waktu makan. 
Lain lagi laku tobe. Ini adalah makanan dari kukusan tepung gaplek. Apa itu gaplek? Irisan singkong yang dikeringkan, sebagai salah satu cara pengawetan singkong. Gaplek ini bisa langsung direbus dan dimakan, atau dicampur dengan jagung bose. Biasanya bagian dalamnya tetap kering dan keras tak peduli berapa lama kita merebusnya. Kalau kau mau lebih sibuk, bikin saja laku tobe. Gaplek tadi kita tumbuk halus, lalu kita kukus dengan tobe [=anyaman daun lontar berbentuk kerucut]. Rasanya jauh lebih enak dan tentu saja lebih gurih jika ditambah parutan kelapa.
Makanan lainnya adalah rebusan sejenis kacang-kacangan, yang disebut koto. Ada sejenis koto yang hidup liar di hutan dan karena beracun di sebut kot’laso. Kendati cukup beracun, koto ini bisa diolah menjadi makanan yang gurih. Dan cuma satu syaratnya: kesabaran. Koto ini direbus berkali-kali, biasanya minimal sepuluh kali – seolah-olah ini angka keramat. Setiap kali mendidih, air rebusannya diganti. Bahasa Dawannya pese’ [lafal e seperti pe dalam P]. Nama makanan ini adalah kot’pese. Bayangkan kalau kacang-kacangan direbus hingga sepuluh kali? Lembuuuuut sekali. Tapi, ini hanya dimakan saat menanti musim panen, ketika lumbung sudah tak ada isi lagi dan umbi-umbian sudah habis diganyang –  kita terbiasa menyebutnya napu: musim kelaparan.
Kembali ke jagung bose. Tadi saya katakan terlalu.  Kenapa? Makanan khas orang Timor sesungguhnya adalah penpasu. Orang Kupang menyebutnya Jagung Ketemak. Biji jagung yang sudah tua direbus bersama kacang-kacangan dan sayuran hijau. Kalau beruntung punya daging, isi penpasu akan lebih bervariasi dengan adanya serat-serat daging babi atau sapi yang gurih. Coba kau tanya orang Timor, apa dia suka makan Penpasu? Sedangkan jagung bose hanya satu variasi dari penpasu: kulit ari dihilangkan dengan cara ditumbuk (dengan sedikit air dan kapur sirih), variasi lainnya: biji jagung dihancurkan dengan batu menyerupai butir-butir nasi; jagung titi aka nasi jagung., sampai ke  yang lebih halus, menyerupai tepung: bubur jagung. Yang terakhir ini konon digemari juga di negara-negara Amerika Selatan.
So, ketika nasi putih menjadi raja, orang Timor mulai merasa minder untuk makan jagung. Kalaupun terpaksa makan jagung maka pilihan paling eksotis adalah jagung bose. No penpasu! “Memalukan, seperti makan pakan ternak”

11.11  No comments

Makanan Khas Timor

Roy pazha

Jika berkunjung ke NTT, kurang lengkap rasanya kalau belum mencicipi bubur jagung khas Timor. Masakan tradisional yang dikenal dengan jagung bose ini menjadi makanan pokok pengganti nasi. Menurut tradisi warga Timor, jagung bose hanya dibuat dari jagung putih. Sebetulnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara jagung putih atau kuning. Hanya saja, jagung putih biasanya terasa lebih manis.
Sesuai dengan namanya, jagung bose berarti jagung yang di-bose-kan atau dilunakkan. Untuk mengeluarkan kulit luar jagung, jagung akan ditumbuk dengan lesung. Kemudian diayak untuk mengeluarkan sisa kulit jagung yang terkelupas.
Se'i, daging asap khas Nusa Tenggara Timur
Setelah bersih, jagung bose dimasak dengan kacang merah agar tambah nikmat. Proses memasaknya membutuhkan waktu cukup lama. Namun. lebih lezat jika jagung dimasak dengan menggunakan kayu bakar. Terakhir, tambahkan sedikit garam dan santan untuk menambah cita rasa jagung bose.
Masakan tradisional khas Timor ini tentu tidak disajikan sendirian. Jagung bose biasanya dimakan bersama daging se'i, karmanaci, dan lawar ikan. Lawar ikan dibuat dari teri segar yang direndam dengan cuka selama 10 menit, yang kemudian dibumbui dengan bawang merah, garam, dan perasan jeruk nipis. Berminat? Ayo berlibur ke NTT!
gak bakalan nyesal deh kalau datang berkunjung ke NTTku tercinta.... ;)
D tunggu kedatangannya yaahhh teman-teman . . . ;)

11.08  No comments

Air Terjun Oehala Soe NTT

Roy pazha



Terletak tidak jauh dari kota SoE, air terjun yang berada di desa Oehala ini menawarkan suasana yang rindang dan sejuk, cukup menyenangkan untuk melepas penat dan menikmati kesegaran alam yang masih asri. Dinginnya air yang mengalir di air terjun dan view yang sungguh indah dari air terjun ini jadi tampak kontras dari udara pulau Timor yang terkenal panas, terutama pada bulan Oktober seperti ini.


Desa Oehala, desa di mana air terjun berada berada sekitar 13 km dari kota SoE (10 km dari dari jalan utama plus 3 km masuk ke dalam). Sebagai salah satu andalan wisata Kabupaten Timor Tengah Selatan, air terjun Oehala termasuk belum memperoleh perhatian yang memadai dari pemerintah setempat. Jalan menuju ke sana termasuk agak sulit dilewati kendaraan pribadi, beberapa ruas jalan yang ruas ditambah jalan masuk ke dalam yang aspalnya sudah banyak berlubang menambah lama perjalanan.

Tapi tenang saja begitu kaki kita sampai di sana, mata kita akan disambut panorama air terjun yang cukup menawan baik untuk sekedar mandi, untuk dipandangi dan jangan lupa juga untuk diabadikan. Untuk itu jangan lupa membawa kamera jika anda ke air terjun Oehala.
Begitu sampai di tempat wisata, aku disambut dengan tangga dari semen menurun sekitar 40 anak tangga dengan jarak yang pendek-pendek. Begitu anak tangga itu habis maka sebuah aliran air yang jernih mengalir di batu yang berwana putih dengan aksen hijau (bukan lumut) menyapa....

Dari sini aku bisa melihat tangga yang terus menurun, juga beberapa tingkat air terjun langsung menyergap mata. Setidaknya terdapat 7 tingkat besar air terjun, itu tidak termasuk beberapa anakan kecil.
Undakan-undakan air terjun ini memberikan keunikan tersendiri seolah-olah meminta kita memilih tingkat yang paling menggoda kita untuk berendam.
Beberapa lopo juga telah dibangun untuk sarana kita beristirahat, meskipun pada saat itu yang aku lihat lopo-lopo sudah tidak beratap lagi. Teruslah turun ke bawah karena beberapa tingkat air terjun masih menunggu mata kita melahapnya.
Begitu kaki dicelupkan ke air, segarnya air seolah mengisi energi kita, sunguh segar. Rasanya tidak lengkap kalau kita tidak merendam badan kita. Aliran air di air terjun Oehala cukup deras, mungkin beberapa kita bisa menggunakan untuk terapi pijat air (hayo siapa yang mau mulai...)

Bagi yang menyukai foto, sebaiknya menunggu diatas jam 16.00. Saat itu waktu terbaik untuk mendapatkan panorama tanpa terganggu teriknya matahari yang menerobos dedaunan yang cukup rindang. Siapkan tripod atau bolehlah handheld jika tangan kita kuat, karena rindangnya dedaunan pasti akan membuat kamera kita agak lambat shutterspeednya.


Nah, waktu kembali ini yang jadi masalah. Tangga yang curam seolah-olah menyedot habis semua energi kita sehingga begitu sampai di atas kita merasa capek. Untuk itulah kita butuh bekal makanan waktu di bawah, karena tak ada penjual makanan sama sekali di sini.
Air kalau lupa tidak masalah, minum saja dari air terjun ha.. ha.. ha..

11.01  3 comments

kolam Susu,Atambua,NTT

Roy pazha

"Bukan lautan, hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu". Penggalan lirik lagu dari grup musik legendaris di era 70-an, Koes Plus pasti sudah tak asing lagi di telinga Anda. Tahukan Anda bahwa kolam susu yang ada di lagu tersebut benar-benar ada? Kolam susu yang ada di lagu tersebut terinspirasi oleh salah satu obyek wisata yang ada di Atambua, Nusa Tenggara Timur.
Obyek wisata ini aslinya bernama Kolam Susuk. Kolam Susuk sendiri berarti kolam nyamuk. Asal muasal nama Kolam Susuk sendiri berdasarkan legenda yang sudah dikenal oleh masyarakat setempat. Menurut legenda, pada jaman dahulu ada tujuh bidadari yang singgah untuk membersihkan diri di Kolam Susuk ini. Bidadari tersebut merupakan utusan Raja Lifao dari Oecusse. Raja Lifao sengaja mengirim nyamuk untuk menganggu mereka saat tertidur. Karena gangguan nyamuk tersebut, para bidadari tetap terjaga sehingga tidak dimangsa oleh para pembantu raja. Berdasarkan legenda tersebut akhirnya masyarakat setempat menyebut kolam tersebut dengan nama Kolam Susuk yang artinya sarang nyamuk.
Kolam Susuk mempunyai pemandangan alam yang cantik. Bukan hanya Koes Plus saja yang jatuh cinta pada kolam itu tapi wisatawan pun banyak mengunjungi Kolam Susuk terutama pada hari libur. Bahkan pada saat even internasional yang diadakan oleh pemerintah setempat, yaitu Sail Komodo 2013, Kolam Susuk menjadi salah satu tujuan utama para wisatwan internasional. Seperti yang tergambar di lagu Koes Plus tersebut, Kolam Susuk kaya akan ikan terutama ikan bandeng. Bahkan masyarakat setempat dan pemerintah terus mengembangkan Kolam Susuk sebagai obyek wisata serta memanfaatkan Kolam Susuk sebagai pusat budidaya bandeng dan udang sehingga lingkungan di sekitar Kolam Susuk bisa terus terawat dengan baik.
giaman gan,,???? ;)
Daerah NTT kaya akan pesona wisata alam yang memukau kan,,,???? ;)
hehehe,,,selamat menikmati bila teman-teman sempat berkunjung ke daerahku yaahhhh ;)

10.57  No comments